JATI DIRI PAKPAK: MENGIKUTI MITOS SIRAJA BATAK DARI PUSUK BUHIT ATAU KADA & LONA DARI INDIA TONDAL?

JATI DIRI PAKPAK: MENGIKUTI MITOS SIRAJA BATAK DARI PUSUK BUHIT ATAU KADA & LONA DARI INDIA TONDAL?


MEDAN[GNP] Tantangan dan masalah yang dihadapi orang Pakpak pada masa kini adalah adanya dualisme aliran yang memiliki pertentangan akan tidak pastinya asal muasal dan leluhurnya. 

Ada dua keyakinan yang kita temui yaitu bahwa kelompok pendukung Si Raja Batak dari Pusuk Buhit dan kelompok Kada & Lona dari Barus yang datang dari India Tondal. 

Apabila melihat kepada Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula, berdasarkan hasil penelitian DNA oleh para ahli DNA ternyata dia memiliki DNA Austronesia dan Austroasiatik. 

Sementara Kada & Lona merupakan keturunan dari ras campuran Orang Negrito yang datang pada masa Mesolitik, penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia yang datang pada masa Neolitik, serta Orang India.

Kedua masa ini berbeda masa  gelombang kedatangannya ke Nusantara,   yaitu jauh lebih dulu  kedatangan Orang Negrito, dan penutur Austroasiatik, dan penutur Austronesia dibanding Si Raja Batak yang diperkirakan datang sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu. 

Kemudian dari campuran ras Negrito dan Austroasiatik  tadi jelas bahwa Kada & Lona berbeda secara genetik dengan Si Raja Batak yang  ber DNA Austronesia dan Austroasiatik. 

Sehingga, pernyataan bahwa Orang Pakpak adalah keturunan Si Raja Batak bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

Sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di Negeri Toba, dalam bukunya: “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia” (2000:339), Peter Belwood menulis bahwa Orang Negrito sudah datang ke Humbang di Negeri Toba pada sekitar 6.500 tahun lalu. 

Peter Belwood merujuk pada hasil penelitian paleontologi yang dilakukan Bernard K. Maloney (dari Universitas Hull, Inggris) di Pea Simsim, Pea Sijajap, Pea Bullock, dan Tao Sipinggan daerah Humbang.
Penelitian Maloney ini dan penelitian Balai Arkeologi Medan di Samosir yang sudah disebutkan tadi dikonfirmasi oleh hasil analisa DNA Orang Toba oleh Mark Lipson (2014:87)  dengan menyimpulkan bahwa DNA Orang Toba terdiri dari: Austronesia 55%, Austroasiatik 25%, dan Negrito 20%. 

Maka, jelas bahwa Orang Toba bukan hanya Orang Taiwan (Austronesia+Austroasitik), tetapi campuran Orang Taiwan dan Orang Negrito. 

Orang Negrito sudah ada mendiami  Humbang sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di kaki Pusuk Buhit, sehingga pernyataan bahwa Sianjur Mula-mula merupakan awal persebaran manusia bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

Dengan demikian Orang Pakpak bukanlah Orang Taiwan seperti Si Raja Batak yang Orang Taiwan, melainkan campuran Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan India. 

Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Orang Pakpak bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula.

Orang Pakpak lebih dulu sampai di Tanoh Pakpak yang sudah datang pada masa prasejarah daripada Si Raja Batak yang sampai di Sianjur Mula-mula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu, sehingga migrasi Orang Toba ke Tanah Pakpak tidak menjadikan Orang Pakpak menjadi keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula.

Jelas bahwa tidak ada hubungan genealogis Si Raja Batak dengan Orang Pakpak, walaupun bahasa Toba dan bahasa Pakpak termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. 

Akhirnya, pernyataan bahwa Orang Pakpak adalah keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

Dengan mengetahui secara jelas penelitian arkeologi yang dilakukan oleh ahli pra sejarah, ahli purbakala, juga penelitian DNA maka orang Pakpak mampu melihat dengan jelas jejak leluhurnya dan mengetahui  dengan pasti sejarah asal muasal dan persebarannya. 

Dari sejarah dan persebarannya juga dapat dipahami bagaimana kebudayaan Pakpak terbentuk, dan menjadi budaya serta jatidiri suku Pakpak sampai saat ini.

Sejarah asal muasal dan pola persebaran ini sangat penting diketahui oleh orang Pakpak, sehingga pola komunikasi dan pola interaksi dengan orang Pakpak sendiri, maupun dengan suku lain menjadi lebih yakin dan pasti tentang jati diri dan identitasnya. 

Sebab dengan identitas, jati diri dan sejarah yang jelas maka orang Pakpak akan semakin percaya diri menjadi sebuah entitas yang bernilai dan bermakna sama dengan suku-suku bangsa lainnya, sehingga tidak ada keragu-raguan tentang asal usulnya dan jatidirinya. 

Keyakinan akan jatidiri dan identitas diri seseorang, memberikan sebuah kepastian tentang peran, kedudukan, dan juga posisi individu maupun kelompok di masyarakat. 

Selain itu keyakinan akan jatidiri dan identitas diri juga akan membawa kesadaran untuk mengakui, menghargai dan menghormati budayanya sendiri, sehingga budaya Pakpak bisa lestari dan berkembang. 

Keyakinan dan jatidiri yang kokoh juga memastikan orang Pakpak tidak malu menunjukkan marga, bahasa, budaya, adat-istiadat, asal-usul serta identitasnya sebagai
AKU PAKPAK.

Sumber : Anna Martyna Sinamo 

Posting Komentar

0 Komentar