KLHK Ringkus Pemilik Puluhan Opsetan Satwa Dilindungi di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat

KLHK Ringkus Pemilik Puluhan Opsetan Satwa Dilindungi di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat






Padang (PKR) - Dikutip dari Akun Facebook Ditjen Gakkum  Men LHK pada 17 Juni 2022, yang mengabarkan bahwa  Tim Gabungan Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, Balai KSDA Sumatera Barat, dan Polda Sumatera Barat telah berhasil menangkap seorang berinsial W (74 thn) sebagai pemilik bagian-bagian satwa yang dilindungi. Tim menangkap W di kediamannya yang beralamat di Jalan Adam, Kelurahan Balai-balai, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat pada Selasa, 31 Mei 2022. Selain pelaku, tim juga mengamankan 30 jenis barang bukti berupa opsetan dan bagian-bagian satwa yang dilindungi. Pelaku selanjutnya diamankan dan diperiksa oleh Penyidik Gakkum LHK, sedangkan barang bukti dititipkan dan dilakukan identifikasi jenis oleh Balai KSDA Sumatera Barat.




Penangkapan ini berawal dari operasi penertiban peredaran dan perniagaan tumbuhan dan satwa liar. Tim melakukan pemeriksaan terhadap tempat kerja untuk pengawetan (opsetan) satwa milik W (74 thn) di Kelurahan Balai-Balai, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Merasa curiga atas tempat tersebut, tim melakukan penggeledahan. Dari hasil penggeledahan, ditemukan satwa dilindungi dalam keadaan mati berupa opsetan berbentuk kulit dan bagian-bagiannya, yaitu berupa: 
1. Macan dahan (Neofelis Nebulosa) sebanyak 2 (dua) ekor;
2. Simpal sumatera (Presbytis Nelalophos) sebanyak 2 (dua) ekor;
3. Kankareng perut putih (Anthracoceros Albirostris) sebanyak 1 (satu) ekor;
4. Rangkong badak (Bucheros Rhinoceros) sebanyak 1 (satu) ekor tidak berkepala;
5. Trenggiling (Manis Javanica) sebanyak 1 (satu) ekor;
6. Kepala Rusa (Cervus Unicolo) sebanyak 5 (lima) buah;
7. Tanduk Rusa (Cervus Unicolor) sebanyak 1 (satu) pasang;
8. Tengkorak kepala rusa (Cervus Unicolor) sebanyak 3 (tiga) buah;
9. Kepala Kijang (Muntiacus Muntjak) sebanyak 2 (dua) buah;
10. Kangguru Pohon (Dendrologus Inustus) sebanyak 1 (satu) ekor;
11. Elang Pana (Miluus Migrans) sebanyak 1 (satu) ekor;
12. Kucing hutan (Prionailurus Bengalensis) sebanyak 1 (satu) ekor;
13. Kambing Hutan (Capricornis Sumatraensis) sebanyak 1 (satu) ekor;
14. Kucing Mas (Captopuma Teminkii) sebanyak 1 (satu) ekor;
15. Rangkong/Julang (Rhyliceros Undulates) sebanyak 1 (satu) ekor;
16. Siamang (Sympalangus Syndactylus) sebanyak 1 (satu) ekor;
17. Binturong (Arctictis binturong) sebanyak 1 (satu) ekor;
18. Bajing terbang (Lomys Horsfield) sebanyak 1 (satu) ekor;
19. Belangkas besar (Tachypleus Gigas) sebanyak 1 (satu) ekor;
20. Tritan terompet (Charania Intonis) sebanyak 2 (dua) ekor;
21. Moluska nautilus (Nautilus Pompilius) sebanyak 1 (satu) ekor;
22. Kulit macan dahan (Neofelis Nebulosa) utuh sebanyak 1 (satu) lembar sudah diawetkan;
23. Kulit kucing mas (Caplopuma Teminkii) utuh, sebanyak 1 (satu) lembar sudah diawetkan;
24. Potongan Kulit Harimau Sumatera (Phanthera Tiggris Sumatrae) sebanyak 46 (empat puluh enam) lembar kecil;
25. Potongan tulang Kerangka Harimau (Phanthera Tiggns Sumatre) sebanyak 1 (satu) ekor utuh tulang;
26. Kulit Siamang (Sympalangus Syndactylus) diletakkan dalam ember warna sebanyak 1 (satu) lembar potong kulit;
Selain itu, diamankan juga surat izin penitipan satwa yang dimiliki oleh pelaku yang telah dicabut oleh Pemerintah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Pelaku W (74 thn) ditetapkan sebagai Tersangka dan dijerat dengan Pasal 21 ayat (2) huruf b dan d jo. Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal 100 juta rupiah.

Dalam Konferensi Pers terkait dengan penetapan tersangka ini, Kepala Balai Gakum KLHK Wilayah Sumatera, Subhan mengatakan, “Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk menggali keterlibatan pihak lain dan akan terus berkoordinasi dengan Polda Sumatera Barat dan Balai KSDA Sumatera Barat. Kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi harus ditindak tegas. Kejahatan ini merupakan kejahatan serius dan luar biasa”, ungkapnya.

Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan KLHK, Polhut Ahli Utama, Sustyo Iriyono, menegaskan “Pengungkapan kasus ini merupakan wujud koordinasi, sinergitas serta komitmen bersama antara Aparat Penegak Hukum (Balai Gakkum - Balai KSDA Sumbar - Polda Sumbar) dalam penyelamatan tumbuhan dan satwa liar sebagai kekayaan sumber daya hayati. Hilangnya sumberdaya hayati bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi maupaun ekologi bagi Indonesia, tapi juga kerugian bagi dunia. Penindakan ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku. Kami tidak akan berhenti menindak pelaku kejahatan terhadap lingkungan hidup dan kehutanan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Ardi Andono mengatakan “Tersangka merupakan ahli dalam membuat opsetan dan memperjualbelikannya”. Ardi Andono juga menghimbau kepada masyarakat yang memiliki opsetan satwa liar yang dilindungi untuk segera menyerahkan kepada BKSDA Sumbar dan bisa menghubungi petugas BKSDA Sumbar setempat atau call center Balai KSDA Sumbar di nomor 081266131222.

Untuk mengamankan lingkungan hidup dan kawasan hutan di Indonesia, dalam beberapa tahun KLHK telah melakukan 1.804 Operasi Pengamanan Lingkungan Hidup dan Kawasan Hutan di Indonesia, 430 di antaranya Operasi Tumbuhan dan Satwa Liar. KLHK juga telah membawa 1.210 kasus ke pengadilan, baik terkait pelaku kejahatan korporasi maupun perorangan. (Drw)

Posting Komentar

0 Komentar